ABI COMMODITY

WARNING: AWAS PENIPUAN MENGATASNAMAKAN PT ABI KOMODITI BERJANGKA. PT ABI KOMODITI BERJANGKA TIDAK MENAWARKAN KEUNTUNGAN TETAP (FIXED INCOME) DAN TRANSFER DANA KE REKENING PRIBADI ATAU PERSEORANGAN.

Senin - Jumat 8.00 - 17.00. Sabtu & Minggu TUTUP

021 – 5761461

Hubungi Kami

Email info@abicommodity.co.id

Kinesis Bullion Business Center 2nd Floor Letjen Suprapto no: 65 Senen, Central Jakarta DKI Jakarta 10460

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas global hari ini berpeluang menguat selama harga masih bergerak di dalam channel bullish dengan membidik resistance terdekat di US$1.980,76 sebelum menargetkan resistance kuat di US$1.987,87 per troy ounce.

Tim analis Monex Investindo Futures menjelaskan secara teknikal potensi untuk kenaikan harga emas ditopang oleh pergerakan indikator stochastic oscillators yang bergerak ke atas setelah garis-garisnya bersilangan dari area jenuh jual.

“Arah pergerakan harga emas juga tampak pada indikator Parabolic SAR [stop and reverse] yang menunjukkan titik-titik merah berada di bawah candle untuk lima candle terakhir. Selain itu, potensi kenaikan harga emas juga dapat ditopang oleh pergerakan indikator MACD yang berada di zona bullish,” tulis analis Monex, Rabu (25/10/2023).

Sementara itu, analis masih optimistis bahwa emas memiliki peluang menembus level psikologi US$2.000 per troy ounce.

“Kami melihat beberapa aksi ambil untung di awal sesi dan kemudian para pedagang datang untuk membeli saat penurunan. Sehingga US$2.000 masih mungkin terjadi dalam jangka pendek atau bahkan rekor tertinggi baru jika terjadi eskalasi krisis di Timur Tengah,” kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals sebagaimana dikutip Reuters.

Harga emas telah naik sekitar 9% dalam dua minggu terakhir, mencapai level tertinggi dalam lima bulan di US$1,997.09 pada 20 Oktober, sebuah reli yang terutama dipicu oleh arus masuk safe-haven di tengah kekhawatiran akan meluasnya perang Israel dengan kelompok militan Hamas.